Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Ilmu
Pengaetahuan Alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas
manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di
sekelilingnya, alam sekitarnya, angkasa luar, bahkan tentang dirinya sendiri. Rasa
ingin tahu seperti itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jelas kiranya bahwa
rasa ingin tahu itu tidak dimiliki oleh benda-benda tak hidup seperti batu,
tanah, api, angina, dan sebagainya. Bagaimana
dengan manusia? Manusia juga memiliki instink seperti yang dimiliki oleh hewan
dan tumbuh-tumbuhan. Namun, manusia memiliki kelebihan, yaitu kemampuan
berpikir dengan kata lain curiousity-nya tidak idle tidak tetap seperti itu
sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang atau dengan
kata lain, manusia mempunyai kemampuan berpikir. Ia bertanya terus setelah tahu
tentang apa-nya, mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa begitu. Manusia
mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan
pengetahuannya yang baru, menjadi pengetahuannya yang lebih baru. Hal demikian
itu berlangsung berabad-abad lamanya, sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan.
Dengan selalu
berlangsungnya perkembangan pengetahuan itu, tampak lebih nyata bahwa manusia
berbeda dengan hewan. Manusia merupakan makhluk hidup yang berakal serta
mempunyai derajat yang tinggi bila dibandingkan dengan hewan atau makhluk
lainnya. Manusia sebagai makhluk berpikir diberi hasrat ingin tahu tentang
benda dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang
dirinya sendiri. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk menjelaskan
gejala-gejala alam serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dan akhirnya
manusia dapat mengumpulakan pengetahuan. Manusia selalu ingin tahu dalam
hal apa sesungguhnya yang ada (know what), bagaimana sesuatu terjadi (know
how), dan mengapa demikian (know why) terhadap segala hal. Orang tidak puas
apabila yang ingin diketahui tidak terjawab. Keingintahuan manusia tidak
terbatas pada keadaan diri manusia sendiri atau keadaan sekelilingnya, tetapi
terhadap semua hal yang ada di alam fana ini.
Ø
TAHAP TEOLOGIS
o
Tingkat
pemikiran manusia bahwa benda-benda di dunia ini semuanya berjiwa dan
disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada diatas manusia.
Tahap Teologis dibagi menjadi 3 sub-ordinat, yaitu:
o
Fetishism/Animisme;
gejala yang terjadi karena kekuatan gaib/supernatural.
o
Polytheisme;
gejala yang terjadi karena adanya kekuatan para dewa.
o
Monotheism;
gejala yang terjadi karena adanya satu Tuhan.
Ø
TAHAP METAFISIS
§ Pada tahap ini, manusia masih
percaya bahwa gejal-gejala didunia ini disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang
berada diatas manusia.
§ Manusia belum berusaha untuk
mencari sebab-sebab dan akibat-akibat gejala-gejala tersebut.
Ø
TAHAP POSITIF
§ Tahap dimana manusia telah
sanggup untuk berfikir secara ilmiah, dan pada tahap ini ilmu pengetahuan
berkembang.
Ø
PERKEMBANGAN ALAM PIKIRAN MANUSIA
- Manusia sebagai HOMO SAPIENS :
Homo Sapiens adalah mahluk yang berpikir
sehingga merupakan mahluk yang cerdas dan bijaksana. Dengan daya pikirnya
manusia dapat berpikir apakah yang sebaiknya dilakukan pada masa sekarang atau
masa yang akan datang berdasar kan
pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman. Pemikiran yang sifatnya
abstrak merupakan salah satu wujud budaya manusia yang kemudian diikuti wujud budaya
lain, berupa tindakan atau perilaku, ataupun kemampuan mengerjakan suatu
tindakan.
- Manusia sebagai HOMO FABER:
Homo Faber :
artinya manusia dapat membuat alat-alat dan mempergunakannya atau disebut
sebagai manusia kerja. Manusia menciptakan alat-alat karena menyadari kemampuan
inderanya terbatas, sehingga diupayakan membuat peralatan sebagai sarana
pembantu untuk mencapai tujuan.
- Manusia sebagai HOMO LONGUENS:
Homo Longuens:
adalah manusia dapat berbicara sehingga apa yang menjadi pemikiran dalam
otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lain. Bahasa sebagai
ekspresi dalam tingkat biasa adalah bahasa lisan. Perbedaan lebih tinggi
diwujudkan dalam tulisan sehingga sebuah pemikiran dapat diterima oleh bangsa
atau generasi bangsa lain (bila tahu mengartikannya).
- Manusia sebagiai HOMO SOCIUS:
Manusia sebagai Homo
Socius artinya manusia dapat hidup bermasyarakat, bukan bergerombol seperti
binatang yang hanya mengenal hukum rimba, yaitu yang kuat yang berkuasa.
Manusia bermasyarakat diatur dengan tata tertib demi kepentingan bersama. Dalam
masyarakat manusia terjadi tindakan tolong-menolong. Dengan tindakan itu,
walaupun fisiknya relatif lemah, tetapi dengan kemampuan nalar yang panjang
tujuan-tujuan bermasyarakat dapat dicapai.
- Manusia sebahai HOMO AECCONOMICUS :
Artinya manusia dapat mangadakan usaha atas dasar perhitungan ekonomi (Homo
Aeconomicus). Salah satu prinsip dalam hukum ekonomi adalah, bahwa semua
kegiatan harus atas dasar untung-rugi. Dalam tingkat sederhana manusia
mencukupi kebutuhannya sendiri, kemudian atas dasar jasa maka dikembangkan
sistem pasar sehingga hasil produksinya dijual di pasaran.
- Manusia sebagai HOMO RELIGIUS:
Artinya manusia menyadari adanya kekauatan ghaib yang memiliki kemampuan
lebih hebat daripada kemampuan manusia, sehingga menjadikan manusia
berkepercayaan atau beragama. Dalam tahap awal lahir animisme, dinamisme, dan
totenisme yang sekarang dikategorikan sebagai kepercayaan, kadang-kadang
dikatakan sebagai agama alami. Kemusian lahirlah kepercayaan yang disebut
sebagai agama samawi yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, percaya kepada
nabiNya, dan kitab suciNya yang dipergunakan sebagai pedoman.
- Manusia sebagai HOMO HUMANUS dan HOMO AESTETICUS:
Artinya manusia berbudaya, sedangkan homo aesteticus artinya manusia yang
tahu akan keindahan. Dari perbedaan-perbedaan yang sedemikian banyak makin
nyata bahwa manusia memang memilki sifat-sifat yang unik yang jauh berbeda dari
pada hewan apalagi tumbuhan. Sehingga manusia tidak dapat disamakan dengan binatang
atau tumbuhan
