Mitos, Penalaran, dan Cara Memperoleh Pengetahuan
Definisi Mitos, Legenda, Cerita Rakyat
Apakah
sebenarnya mitos itu? Istilah mitos memang sulit untuk dijelaskan karena
istilah ini memilki “wilayah makna” yang cukup luas. Mitos secara umum dapat
disamakan dengan legenda dan bahkan ada yang berpendapat bahwa mitos itu sama
dengan legenda, namun sebenarnya mitos dalam pengertian tradisional hanya
memiliki kesejajaran dengan legenda. Jadi, mitos bukanlah legenda.
Beberapa ahli seperti Hutomo (1991), dsn Bascom (Danandjaya,
2002) memiliki pandangan tentang apa itu mitos. Hutomo (1991: 63) berpendapat
mitos (mite) yang berasal dari bahasa Yunani berarti cerita-cerita tentang
dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Mitos adalah cerita-cerita
suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama/religi. Menurut Bascom
(Danandjaya, 2002: 50), mite atau mitos merupakan cerita prosa rakyat yang
dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite
ditokohi oleh para dewa atau mahluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia
yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Dari
definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa "mitos adalah sebuah cerita
naratif yang berakar dari kebudayaan atau sejarah primitif pada suatu
masyarakat, daerah atau agama. Biasanya cerita primitif ini merupakan
perwujudan dari fantasi alam bawah sadar bukan berdasarkan akal pikiran.
Maksudnya, mitos tersebut dibuat untuk menjawab hal-hal yang tidak dapat
dijawab dengan pikiran manusia." Beberapa contoh mitos yang terkenal
antara lain:
1. Anak perempuan kalau menyapu harus bersih, kalau tidak nanti suaminya brewokan
2. Ibu hamil jika ada gerhana harus menyembunyikan badannya agar kelak sang jabang bayi tidak memiliki tanda lahir di tubuhnya
3. Tidak boleh potong kuku di malam hari
Mitos berbeda dengan legenda. Lalu apakah yang membedakan mitos dari legenda? Apa hubungan mitologi dan legenda? Menurut Bascom (dalam Hutomo, 1991: 63), legenda adalah cerita yang dianggap benar- benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia biasa walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, atau sering dibantu oleh makhluk-makhluk gaib (halus). Tempat terjadinya legenda adalah dunia seperti ysng kita kenal sekarang. Waktu terjadinya belum begitu lampau. Para pelaku legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat masa lalu (Rusyana, 2000: 39). Singkatnya, legenda itu merujuk pada peristiwa-peristiwa khayalan yang terjadi pada tokoh yang pernah hidup pada dunia nyata. Terkadang cerita-cerita dalam legenda berhubungan dengan cerita romantis di suatu tempat tertentu.
Contoh dari legenda antara lain:
1. Sangkuriang
2. La Madukelleng
3. William Tell
4. Lutung Kasarung
5. Asal-Usul Bengawan Solo
6. Asal-usul Danau Toba
Bagaimana dengan cerita rakyat atau folklore? Cerita rakyat pada mulanya adalah peristiwa bahasa lisan; ia dituturkan, bukan dituliskan. Sebagai tuturan, cerita rakyat bekerja dengan dan melalui kombinasi berbagai kualitas suara manusia – misalnya, vokal dan konsonan, tinggi-rendah suara, panjang-pendek suara, jeda, tekanan, warna suara, dan sebagainya. Kombinasi berbagai kualitas suara manusia tersebut hadir serentak dalam peristiwa lisan. Selain dari itu, tuturan juga bekerja dengan melibatkan tanda-tanda non-kebahasaan, seperti roman muka, gerak tubuh dan anggota badan, serta kadangkala dibantu pula dengan kehadiran benda-benda. Mitos sebagai bagian dari folklor biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmogony); terjadinya susunan para dewa; dunia dewata (pantheon); terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culture hero); terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebaginya, untuk pertama kali (Danadjaja, 1986:52). Contoh dari cerita rakyat antara lain:
1. Batu Golog
2. Bende Wasiat
3. Buaya Ajaib
4. Buaya Perompak
5. Cindelaras
6. Kancil dan Buaya
1. Anak perempuan kalau menyapu harus bersih, kalau tidak nanti suaminya brewokan
2. Ibu hamil jika ada gerhana harus menyembunyikan badannya agar kelak sang jabang bayi tidak memiliki tanda lahir di tubuhnya
3. Tidak boleh potong kuku di malam hari
Mitos berbeda dengan legenda. Lalu apakah yang membedakan mitos dari legenda? Apa hubungan mitologi dan legenda? Menurut Bascom (dalam Hutomo, 1991: 63), legenda adalah cerita yang dianggap benar- benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia biasa walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, atau sering dibantu oleh makhluk-makhluk gaib (halus). Tempat terjadinya legenda adalah dunia seperti ysng kita kenal sekarang. Waktu terjadinya belum begitu lampau. Para pelaku legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat masa lalu (Rusyana, 2000: 39). Singkatnya, legenda itu merujuk pada peristiwa-peristiwa khayalan yang terjadi pada tokoh yang pernah hidup pada dunia nyata. Terkadang cerita-cerita dalam legenda berhubungan dengan cerita romantis di suatu tempat tertentu.
Contoh dari legenda antara lain:
1. Sangkuriang
2. La Madukelleng
3. William Tell
4. Lutung Kasarung
5. Asal-Usul Bengawan Solo
6. Asal-usul Danau Toba
Bagaimana dengan cerita rakyat atau folklore? Cerita rakyat pada mulanya adalah peristiwa bahasa lisan; ia dituturkan, bukan dituliskan. Sebagai tuturan, cerita rakyat bekerja dengan dan melalui kombinasi berbagai kualitas suara manusia – misalnya, vokal dan konsonan, tinggi-rendah suara, panjang-pendek suara, jeda, tekanan, warna suara, dan sebagainya. Kombinasi berbagai kualitas suara manusia tersebut hadir serentak dalam peristiwa lisan. Selain dari itu, tuturan juga bekerja dengan melibatkan tanda-tanda non-kebahasaan, seperti roman muka, gerak tubuh dan anggota badan, serta kadangkala dibantu pula dengan kehadiran benda-benda. Mitos sebagai bagian dari folklor biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmogony); terjadinya susunan para dewa; dunia dewata (pantheon); terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culture hero); terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebaginya, untuk pertama kali (Danadjaja, 1986:52). Contoh dari cerita rakyat antara lain:
1. Batu Golog
2. Bende Wasiat
3. Buaya Ajaib
4. Buaya Perompak
5. Cindelaras
6. Kancil dan Buaya
2Bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?.
Bagaimana cara manusia memperolehuan Alam bermula dari rasa ingin tahu, yang
merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang
benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya, angkasa luar, bahkan tentang
dirinya sendiri. manusia memiliki kelebihan, yaitu kemampuan berpikir dengan
kata lain curiousity-nya tidak idle tidak tetap seperti itu sepanjang zaman.
Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang atau dengan kata lain, manusia
mempunyai kemampuan berpikir. Ia bertanya terus setelah tahu tentang apa-nya,
mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa begitu. Manusia mampu menggunakan
pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang
baru, menjadi pengetahuannya yang lebih baru. Hal demikian itu berlangsung
berabad-abad lamanya, sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan. Manusia
sebagai makhluk berpikir diberi hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa
yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk menjelaskan gejala-gejala alam
serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dan akhirnya manusia dapat
mengumpulakan pengetahuan.
3.
Mengapa manusia mudah menerima mitos?
Begitu besarnya pengaruh mitos, legenda dan cerita rakyat, bahkan hingga sampai saat ini banyak dari kita yang masih mempercayai salah satu atau beberapa hal tersebut. Beberapa faktor yang menyebabkan mitos dan beberapa hal berikutnya dapat timbul ialah :
1. Keterbatasan pengetahuan manusia, pada umunya manusia memperoleh informasi dari cerita orang yang mengetahui akan suatu hal. Kemudian hal ini bepindah telinga kepada manusia yang lain. Yang menjadi masalah adalah kebenaran tentang informasi atau pengetahuan yang muncul dan telah menyebar tersebut
2. Keterbatasan manusia dalam menalarkan sesuatu, ini dikarenakan kemampuan berpikir manusia pada saat itu masih latih. Sehingga pemikiran yang dihasilkan dapat benar dan dapat pula salah.
3. Keingintahuan manusia yang telah terpenuhi untuk sementara, mengandung pengertian bahwa ketika manusia telah mampu menalarkan sedikit hal yang ada dalam pikirannya maka disitulah letak kepuasan manusia yang diterimanya secara intuisi.
4. Keterbatasan alat indera manusia, selain beberapa hal diatas keterbatasan manusia terhadap bagaimana Ia menggunakan alat inderanya masih terbatas sehingga jangkauan yang sangat detail dalam suatu penciptaan hal yang baru masih bisa diragukan.
Begitu besarnya pengaruh mitos, legenda dan cerita rakyat, bahkan hingga sampai saat ini banyak dari kita yang masih mempercayai salah satu atau beberapa hal tersebut. Beberapa faktor yang menyebabkan mitos dan beberapa hal berikutnya dapat timbul ialah :
1. Keterbatasan pengetahuan manusia, pada umunya manusia memperoleh informasi dari cerita orang yang mengetahui akan suatu hal. Kemudian hal ini bepindah telinga kepada manusia yang lain. Yang menjadi masalah adalah kebenaran tentang informasi atau pengetahuan yang muncul dan telah menyebar tersebut
2. Keterbatasan manusia dalam menalarkan sesuatu, ini dikarenakan kemampuan berpikir manusia pada saat itu masih latih. Sehingga pemikiran yang dihasilkan dapat benar dan dapat pula salah.
3. Keingintahuan manusia yang telah terpenuhi untuk sementara, mengandung pengertian bahwa ketika manusia telah mampu menalarkan sedikit hal yang ada dalam pikirannya maka disitulah letak kepuasan manusia yang diterimanya secara intuisi.
4. Keterbatasan alat indera manusia, selain beberapa hal diatas keterbatasan manusia terhadap bagaimana Ia menggunakan alat inderanya masih terbatas sehingga jangkauan yang sangat detail dalam suatu penciptaan hal yang baru masih bisa diragukan.
