Kamis, 08 Juni 2017

Definisi Mitos, Legenda, Cerita Rakyat
Apakah sebenarnya mitos itu? Istilah mitos memang sulit untuk dijelaskan karena istilah ini memilki “wilayah makna” yang cukup luas. Mitos secara umum dapat disamakan dengan legenda dan bahkan ada yang berpendapat bahwa mitos itu sama dengan legenda, namun sebenarnya mitos dalam pengertian tradisional hanya memiliki kesejajaran dengan legenda. Jadi, mitos bukanlah legenda.
Beberapa ahli seperti Hutomo (1991), dsn Bascom (Danandjaya, 2002) memiliki pandangan tentang apa itu mitos. Hutomo (1991: 63) berpendapat mitos (mite) yang berasal dari bahasa Yunani berarti cerita-cerita tentang dewa-dewa atau pahlawan-pahlawan yang dipuja-puja. Mitos adalah cerita-cerita suci yang mendukung sistem kepercayaan atau agama/religi. Menurut Bascom (Danandjaya, 2002: 50), mite atau mitos merupakan cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau mahluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa "mitos adalah sebuah cerita naratif yang berakar dari kebudayaan atau sejarah primitif pada suatu masyarakat, daerah atau agama. Biasanya cerita primitif ini merupakan perwujudan dari fantasi alam bawah sadar bukan berdasarkan akal pikiran. Maksudnya, mitos tersebut dibuat untuk menjawab hal-hal yang tidak dapat dijawab dengan pikiran manusia." Beberapa contoh mitos yang terkenal antara lain:
1. Anak perempuan kalau menyapu harus bersih, kalau tidak nanti suaminya brewokan
2. Ibu hamil jika ada gerhana harus menyembunyikan badannya agar kelak sang jabang bayi tidak memiliki tanda lahir di tubuhnya
3. Tidak boleh potong kuku di malam hari



Mitos berbeda dengan legenda. Lalu apakah yang membedakan mitos dari legenda? Apa hubungan mitologi dan legenda?  Menurut Bascom (dalam Hutomo, 1991: 63), legenda adalah cerita yang dianggap benar- benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Berlainan dengan mite, legenda ditokohi oleh manusia biasa walaupun ada kalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, atau sering dibantu oleh makhluk-makhluk gaib (halus). Tempat terjadinya legenda adalah dunia seperti ysng kita kenal sekarang. Waktu terjadinya belum begitu lampau. Para pelaku legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betul-betul pernah hidup pada masyarakat masa lalu (Rusyana, 2000: 39). Singkatnya, legenda itu merujuk pada peristiwa-peristiwa khayalan yang terjadi pada tokoh yang pernah hidup pada dunia nyata. Terkadang cerita-cerita dalam legenda berhubungan dengan cerita romantis di suatu tempat tertentu.
Contoh dari legenda antara lain:
1. Sangkuriang
2. La Madukelleng
3. William Tell
4. Lutung Kasarung
5. Asal-Usul Bengawan Solo
6. Asal-usul Danau Toba

Bagaimana dengan cerita rakyat atau folklore?  Cerita rakyat pada mulanya adalah peristiwa bahasa lisan; ia dituturkan, bukan dituliskan. Sebagai tuturan, cerita rakyat bekerja dengan dan melalui kombinasi berbagai kualitas suara manusia – misalnya, vokal dan konsonan, tinggi-rendah suara, panjang-pendek suara, jeda, tekanan, warna suara, dan sebagainya. Kombinasi berbagai kualitas suara manusia tersebut hadir serentak dalam peristiwa lisan. Selain dari itu, tuturan juga bekerja dengan melibatkan tanda-tanda non-kebahasaan, seperti roman muka, gerak tubuh dan anggota badan, serta kadangkala dibantu pula dengan kehadiran benda-benda. Mitos sebagai bagian dari folklor biasanya menceritakan terjadinya alam semesta (cosmogony); terjadinya susunan para dewa; dunia dewata (pantheon); terjadinya manusia pertama dan tokoh pembawa kebudayaan (culture hero); terjadinya makanan pokok, seperti beras dan sebaginya, untuk pertama kali (Danadjaja, 1986:52). Contoh dari cerita rakyat antara lain:
1. Batu Golog
2. Bende Wasiat
3. Buaya Ajaib
4. Buaya Perompak
5. Cindelaras
6. Kancil dan Buaya

2Bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan?.  
    Bagaimana cara manusia memperolehuan Alam bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan suatu ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di sekelilingnya, alam sekitarnya, angkasa luar, bahkan tentang dirinya sendiri. manusia memiliki kelebihan, yaitu kemampuan berpikir dengan kata lain curiousity-nya tidak idle tidak tetap seperti itu sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang atau dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan berpikir. Ia bertanya terus setelah tahu tentang apa-nya, mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa begitu. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuannya yang baru, menjadi pengetahuannya yang lebih baru. Hal demikian itu berlangsung berabad-abad lamanya, sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan. Manusia sebagai makhluk berpikir diberi hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk menjelaskan gejala-gejala alam serta berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dan akhirnya manusia dapat mengumpulakan pengetahuan.

3.      Mengapa manusia mudah menerima mitos?
Begitu besarnya pengaruh mitos, legenda dan cerita rakyat, bahkan hingga sampai saat ini banyak dari kita yang masih mempercayai salah satu atau beberapa hal tersebut. Beberapa faktor yang menyebabkan mitos dan beberapa hal berikutnya dapat timbul ialah :

1. Keterbatasan pengetahuan manusia, pada umunya manusia memperoleh informasi dari cerita orang yang mengetahui akan suatu hal. Kemudian hal ini bepindah telinga kepada manusia yang lain. Yang menjadi masalah adalah kebenaran tentang informasi atau pengetahuan yang muncul dan telah menyebar tersebut

2. Keterbatasan manusia dalam menalarkan sesuatu, ini dikarenakan kemampuan berpikir manusia pada saat itu masih latih. Sehingga pemikiran yang dihasilkan dapat benar dan dapat pula salah.

3. Keingintahuan manusia yang telah terpenuhi untuk sementara, mengandung pengertian bahwa ketika manusia telah mampu menalarkan sedikit hal yang ada dalam pikirannya maka disitulah letak kepuasan manusia yang diterimanya secara intuisi.

4. Keterbatasan alat indera manusia, selain beberapa hal diatas keterbatasan manusia terhadap bagaimana Ia menggunakan alat inderanya masih terbatas sehingga jangkauan yang sangat detail dalam suatu penciptaan hal yang baru masih bisa diragukan.

Veni Vidi Vici . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates