Kamis, 07 Juni 2018

Judul
Hubungan Antara Simptom Borderline Personality dan Kecanduan Internet: Efek Mediasi dari Permasalahan Gangguan Mental
Jurnal
Journal of Behavioral Addictions
Edisi
6(3), pp. 434–441 (2017)
Tanggal Publikasi
25 Agustus 2017
Penulis
Wei-Hsin Lu, Kun-Hua Lee, Chih-Hung K, Ray C. Hsiao, Huei-Fan Hu And Cheng-Fang Yen

1. Tujuan:
Untuk mengetahui hubungan antara borderline personality syndrome dan kecanduan internet, serta solusi bagi kedua permasalahan kesehatan mental tersebut.

2. Latar belakang:
Keberadaan internet sekarang ini sangat membantu kehidupan masyarakat, seperti mempermudah untuk mencari informasi, berkomunikasi, dan sebagai sarana hiburan. Meskipun sekarang ini internet mudah diakses dan menghasilkan kenyamanan tersendiri bagi penggunanya, ternyata keberadaan internet juga bisa menghasilkan pola perilaku maladaptif yang mengarahkan penggunanya mengalami penurunan kualitas hidup, suasana hati yang buruk, dan gangguan fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kasus ini, kalangan mahasiswa menduduki posisi pertama penggunaan internet tertinggi dalam kehidupan sehari-hari dengan waktu yang mereka habiskan rata-rata sebanyak 6 jam per hari. Tinggi nya angka tersebut dipicu oleh faktor usia mereka yang sedang memasuki fase transisi dalam perkembangan dan juga mereka mempunyai banyak akses yang dapat digunakan untuk memasuki dunia internet.

3. Pengukuran:
Partisipan direkrut menggunakan iklan yang diposting di sebuah website dengan taget mahasiswa berusia 20-30 tahun. Total partisipan terdapat 500 mahasiswa (238 pria dan 262 wanita).  
Skala pertama yang digunakan adalah Taiwanese version of the Borderline Symptom List (BSL-23) yang berguna untuk menunjukan tingkat keparahan dari BPS. Alpha cronbach dari Taiwanese version of the BSL-23 adalah sebesar 93. Realiabilitas (Pearson’s r) adalah sebesar 71 (p<0.001). Skala kedua yang digunakan adalah Symptom Checklist-90-Revised Scale (SCL-90-R), yaitu skala yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan dari permasalahan gangguan mental partisipan, seperti sensitifitas interpersonal, depresi, kecemasan, dan kebencian. Alpha cronbach dari empat subskala dalam studi ini berkisar dari 76-89. Skala ketiga yang digunakan adalah Chen Internet Addiction Scale (CIAS), yaitu skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kecanduan internet pada partisipan dalam kurun waktu sebulan selama masa studi. Reliabilitas internal dari CIAS dalam studi kali ini bernilai 93.

4. Prosedur dan analisa statistikal:
Peneliti pertama-tama menjelaskan prosedur dan metode dalam menylesaikan kuesioner penelitian secara individual kepada partisipan. Hasil dari kuesioner dikerjakan menggunakan IBM SPSS Amos 18.0 (SPSS Inc., Chicago, IL, USA). non-normed fit index (NNFI), the comparative fit index (CFI), incremental fit index (IFI), the root mean square error of approximation (RMSEA), dan the standardized root mean square residual (SRMR)

5. Hasil:
Hasil studi mengindikasikan bahwa terdapat korelasi signifikan antara variabel terukur, kecuali usia. Korelasi tinggi antara sensitifitas interpersonal depresi, kecemasan, dan kebencian (r = .61.84) mengindikasikan bahwa keempat indikator dari gangguan mental tersebut sangat interaktif. Tingkat keparahan dari BPS secara positif terasosiasi dengan tingkat keparahan dari kecanduan internet, dan tingkat kecanduan internet dimediasi oleh tingkat keparahan serta dengan gangguan mental. Kami mengunakan Sobel Test untuk mengidentifikasi variabel kesehatan mental mana yang berperan paling kuat sebagai mediator antara BSL dan kecanduan internet. Kami meemukan bahwa depresi memiliki peran paling kuat sebagai mediator dengan kecanduan internet (t = 7.7999, p = 0), diikuti dengan kecemasan (t = 7.15, p = 0), konflik interpersonal (t = 7.00, p = 0), dan kebencian (t = 5.34, p = 0). Melalui analisa bootstrapping, kami menemukan standar efek total dari kecanduan internet adalah sebesar 48.30%. standar efek langsung dari BSL dalam kesehatan mental dan dalam kecanduan internet adalah sebesar 71.9% dan 20.3%. menggunakan metode bias corrected percentile, kami menemukan standar beban regresi dari BSL-kesehatan mental, kecanduan internet-kesehatan mental, dan BSL-kecanduan internet adalah 0.719 (95% CI = 0.652–0.78), 0.22 (95% CI = 0.108–0.344), dan 0.203 (95% CI = 0.085–0.309).

6. Kesimpulan:
Studi ini menunjukkan hubungan positif antara gejala BPD dan kecanduan internet serta efek mediasi masalah kesehatan mental di antara mereka. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi generalisasi hasil dan hubungan sebab-akibat antara gejala BPD, masalah kesehatan mental, dan kecanduan internet, serta untuk mengeksplorasi efek mengelola masalah kesehatan mental pada orang-orang dengan gejala BPD yang menderita kecanduan internet.

Veni Vidi Vici . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates